|
PURWOKERTO, (CIMED) – Pengusaha kecil dalam menjalankan operasinya banyak menghadapi permasalahan berupa penyakit yang menyerang usahanya. Penyakit ini terkadang dianggap sepele, tetapi banyak yang menyebabkan matinya usaha. Meski demikian ada beberapa pengusaha kecil yang pernah menderita penyakit ini tetapi dapat besar dan sukses, namun umumnya akan mengalami banyak permasalahan dalam usahanya.
Hal itu dipaparkan Setio Budi Wibowo dari Center of Prophetic Intelligence Yogyakarta pada acara “Enterpreunership Skill Training” mitra binaan Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap di Hotel Rosenda, Baturaden, Sabtu (2/2/2013).
Disebutkan setidaknya ada 7 penyakit yang menyerang pengusaha kecil yakni tuli (satu pembeli), muntah (menjual mentah), mencret (menjual ceroboh dan teledor), ketiganya merupakan masalah pemasaran. Kemudian penyakit kurap (kurang supplier) dan batuk (barang tunggal dan ketinggalan model) terkait dengan masalah produksi. Selanjutnya penyakit kutil (kurang terampil) merupakan masalah organisasi dan penyakit campak (campuran usaha keluarga) terjadi pada masalah keuangan.
Tuli (Satu Pembeli)
Secara rinci Budi membeberkan satu per satu penyakit yang dihadapi para pengusaha kecil. Dimulai dengan penyakit tuli, penyakit ini terjadi pada pengusaha kecil yang kurang menerima informasi.
“Bila sudah mendengar satu informasi ia tidak dapat mendengar atau tidak mau mendengar informasi baru. Kemudian satu pembeli, mungkin hal ini sangat janggal, mengapa ada pengusaha yang hanya memiliki satu atau dua pembeli saja?” terang pria asal Klaten ini.
Dicontohkan, pada pengusaha catering, setelah menerima order, misalnya selama tiga bulan, suatu kantor atau pabrik, sudah sukar untuk jualan lagi di kantor lain karena kapasitasnya sudah habis.
Akibat penyakit ini, kata Budi, harga jual dikuasai oleh pembeli, pengusaha kecil tidak berani menawar, takut kalau batal ordernya, yang berarti perusahaan tidak dapat penghasilan karena tidak memiliki pembeli lain.
“Order yang diperoleh tidak rutin, karena pengusaha jenis ini banyak yang mengantri pekerjaan, sehingga diterapkan asas giliran atau arisan pekerjaan. Bila satu-satunya pembeli tidak membeli, maka perusahaan akan bangkrut.” jelasnya.
Muntah (Menjual Mentah)
Mengapa disebut muntah? Mengeluarkan sesuatu yang seharusnya diproses dalam perut. "Menjual Mentah“, pengusaha sebagai penjual tidak melakukan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah, sehingga barang yang dijual persis seperti yang dibeli.
Akibat muntah, maka laba yang diperoleh tidak banyak, karena pengusaha tidak melakukan proses tambahan. Karena tidak diproses maka produk bersifat umum dan biasa, sehingga mudah direbut pesaing. Kemudian harga tidak stabil cenderung merugikan pengusaha.
Contohnya, penjual cabe, hanya menjual cabe saja tanpa proses. Waktu produksi sedikit, harga jual baik, tetapi harga beli cabenya juga naik, waktu kelebihan produksi harga jual anjlok, pengusaha menderita kerugian.
Mencret (Menjual Ceroboh dan Teledor)
Penyakit ini diakibatkan kecerobohan dan kurang hati-hati. Penyakit yang sederhana ini juga dapat mematikan
"Menjual Ceroboh dan Teledor“, pengusaha sering kurang perhatian terhadap pembeli, pelayanan yang tidak baik, sering "Mengecewakan Pembeli" dapat menyebabkan pembeli lari ke tempat lain .
Contohnya, pengusaha kecil tidak tahu tentang seluk beluk barang dagangannya. Parahnya lagi, penjual selalu memberikan kembali dengan permen. Oleh seorang pembeli permen tersebut dikumpulkan lalu dipakai untuk membeli ditempat penjual tersebut.
“Penjual pun marah, yang benar saja beli pakai permen, memang toko bapakmu,” ujar Budi.
Penyakit ini akibat penjual sering menyinggung perasaan pembeli. Penjual tidak memahami kebutuhan dari pembeli. Pembeli tidak datang lagi karena kecewa, sehingga lama kelamaan pembeli habis tidak ada yang berkunjung.
Kurap (Kurang Pemasok / Kurang Suplier)
Banyak perusahaan hanya memiliki satu pemasok. Karena mereka menganggap pemasok tersebut sebagai langganan, mereka percaya penuh, sehingga tidak pernah membandingkan dengan pemasok lain, sedangkan pemasok lain harganya dan syaratnya bisa lebih baik.
“Ini akibat pengusaha tidak memiliki hubungan dengan pemasok lain, sehingga kalau terjadi masalah dengan pemasok tersebut, maka pengusaha akan menghadapi masalah besar,” terang Budi.
Bahkan lanjut dia, banyak pengusaha hanya memiliki satu pemasok bahan baku sekaligus pemasok tersebut menjadi satu-satunya pembeli.
Contohnya, seorang pengusaha sepatu membeli kulit dari pemasok kulit, yang ternyata adalah sekaligus juga pembeli dari seluruh produk sepatu.
“Akibatnya harga beli dikuasai oleh pemasok. Bila pasokan berhenti maka perusahaan dalam masalah karena tidak ada alternatif dari pemasok lain,” jelasnya.
Batuk (Barang Tunggal dan Ketinggalan Model)
Penyakit ‘Barang Tunggal dan Ketinggalan Model", juga sering dijumpai diberbagai pengusaha.
“Sampai pengusaha itu akan bangkrut namun tetap mampertahankan produk yang dihasilkan walaupun sudah tidak sesuai lagi dengan selera pasar dan tidak melakukan diversifikasi produk usahanya,” kata Budi.
Akibatnya, perusahaan yang hanya memiliki output satu produk mudah disaingi oleh kompetitor lain, karena tidak memiliki produk potensial yang lain.
“Perusahaan yang hanya memiliki satu output produk bisa mengalami bangkrut, karena produk yang dihasilkan memiliki usia kejenuhan suatu produk dan apabila sudah tidak laku pengusaha tidak dapat menyesuaikan diri untuk beralih ke produk lain. Pengusaha yang demikian biasanya tidak memiliki daya kreatif dan tidak mau diberi saran,” terangnya.
Kutil (Kurang Terampil)
Tidak sedikit pengusaha memasuki bisnis tanpa memiliki ketrampilan yang baik dan hal ini tetap terus dipertahankan selama usaha.
“Pengusaha enggan untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan, lebih-lebih untuk meningkatkan kemampuan bawahannya, karena dianggap hanya akan menambah biaya operasional perusahaan,” ujarnya.
Contohnya, pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuan bawahannya, sehingga mutu (kualitas) produknya kurang sesuai dengan keinginan konsumen.
Campak (Campuran Usaha dan Keluarga)
Penyakit ini adalah penyakit yang paling parah dan paling banyak dijumpai oleh pengusaha kecil.
Budi mengungkapkan, memang dalam usaha kecil, usaha dan keluarga tercampur, tetapi kalau hal ini terus dilestarikan, banyak pengusaha kecil justru tidak berkembang atau mengalami kebangkrutan.
“Faktor yang tercampur biasanya meliputi keuangan yaitu membeli keperluan keluarga yang dibebankan pada perusahan dan masalah keputusan, dimana istri dan anak yang tidak memiliki keahlian ikut campur dalam keputusan perusahaan yang berarti,” ungkapnya.
Dijelaskan, perusahaan seperti ini dalam perkembangannya justru semakin menyempit, dimana yang berperan dalam perusahaan adalah anggota keluarga dan orang luar disingkirkan.
“Sebenarnya, jika dibandingkan dengan penyakit sebelumnya, penyakit ini merupakan penyakit yang dibuat sendiri,” jelasnya.
Dikatakan, pada aspek pasar, masalah dikendalikan oleh pembeli, pada aspek produksi dikendalikan oleh pemasok dan aspek organisasi masalah ditentukan oleh kayawan. Dalam aspek keuangan terjadinya masalah karena muncul dari diri pengusaha sendiri. Karena pengusaha sering tidak dapat mengontrol diri sendiri, maka banyak masalah timbul.
Akibatnya, sulit melakukan kontrol keuangan, karena pengusaha kecil memang tidak mau keadaan kas keuangannya terkontrol.
“Pengeluaran keluarga sering dijumpai jauh lebih besar dari pengeluaran perusahaannya. Tidak memberikan teladan yang baik pada karyawan, karena karyawan dapat ikut-ikutan merusak perusahaan,” kata Budi.
Dia mencontohkan, seorang pengusaha kerap berfoya-foya ketika perusahaanya untung dengan menggunakan uangnya secara konsumtif untuk keperluan keluarga, kayawan tidak ikut menikmati, bahkan uang lembur diberikan terlambat. |
Comments
Salam sukses
Titiek