Mei
22
2012
Today
Iklan
Iklan

Artikel Terkini :

article thumbnailOrang Gila

Cuaca Cilacap 21-05-2012

Hujan Ringan
Suhu : 24-320C
Angin : 5-35km/jam
Cuaca Maritim KLIK Disini
Petani Keluhkan Kelangkaan Dan Tingginya Harga Pupuk
Oleh Wagino   
Senin, 10 Nopember 2008 17:07

KESUGIHAN, (Cimed) – Ribuan petani di berbagai wilayah Kabupaten Cilacap saat ini tengah memulai menanam padi. Disaat yang sama masalah klasik yang selalu menghimpit petani pun timbul yakni sulitnya mendapatkan pupuk. Meski ada harganya pun selangit.

Mingan (58), salah satu petani di Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan mengaku kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan pupuk untuk sawahnya.

“Saya hampir setiap hari bolak-balik ke toko pengecer tapi selalu kosong. Baru hari ini saya dapat pupuk tapi harganya mahal,” kata Mingan kepada CilacapMedia.com, Senin (10/11).

Padahal menurut dia, biasanya saat sebelum masa tanam tiba, harga pupuk urea di toko paling tinggi Rp 70.000 per zak. Namun sekarang dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 85.000 per zak.

Dia menambahkan, kalau kelangkaan pupuk dan tingginya harag tidak segera diatasi maka akan merugikan petani. Sebab, kata dia, langkanya pupuk dapat mengakibatkan petani gagal panen, kalau pun panen produksi menurun.

“Kalau harga pupuk tetap tinggi, ini jelas merugikan petani. Soalnya biaya produksi menjadi bengkak,” tambahnya tanpa merinci berapa biaya yang dikeluarkan untuk mengolah sawahnya dari mulai persiapan hingga panen.

Hal senada juga dilontarkan Wagiran (60), petani asal Desa Rawajaya, Kecamatan Bantarsari. Dia mengatakan saat musim tanam pupuk selalu menghilang dari pengecer lokal. Padahal, menurut dia, pupuk tak bisa digantikan perannya dengan pupuk alternatif.

Sementara sejumlah toko pengecer pupuk yang berada di Jalan Rawa Bendungan, Tritih Wetan, saat dikonfirmasi mengenai stok dan harga pupuk enggan bicara.

“Kalau mau tanya lebih banyak masalah pupuk langsung ke distributor saja. Saya hanya pengecer kecil,” kata salah seorang pemilik toko.

Saat ditanya berapa harga eceran terakhir, jawaban yang terlontar pun selalu menutupi.

“Saya nggak tahu harganya berapa, kebetulan ini sedang kosong. Kalau pun ada stok harganya juga tergantung bon dari distributor,” ujarnya.

Sementara Nadi (55), petani asal Desa Jangrana, Kecamatan Kesugihan yang mengaku selama 15 tahun menjadi kuli panggul pupuk di Pelabuhan Tanjung Intan, heran dengan langkanya pupuk selama ini.

“Pupuk di gudang pelabuhan selalu menumpuk. Kiriman setiap hari dari gudang ke distributor juga tidak pernah berhenti. Tapi di toko pengecer kok langka?” kata Nadi

Menurut dia, kelangkaan pupuk sudah sering terjadi dan diduga kuat ada permainan dari oknum-oknum tertentu.

”Kami harapkan pemerintah benar-benar memperhatikan nasib kami ini,” ujarnya.



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP
 

Posting komentar anda