Okt
22
2014
Today

Cuaca Cilacap 3-9-2014

Cerah
Suhu : 22-280C
Angin : 5-27 km/jam
Cuaca Maritim KLIK Disini
Batik Tulis Maos Merambah Dunia PDF Cetak E-mail
Oleh Wagino   
Sabtu, 23 Agustus 2008 12:54

MAOS, (Cimed) – Bicara batik tulis, kita pasti akan langsung teringat kota-kota seperti Jogja dan Solo atau bahkan Pekalongan yang menjadi sentra industri batik di tanah air. Benar sekali kita sepertinya sudah familiar dengan batik asal kota-kota tersebut, namun bagaimana dengan batik tulis Maos? Mungkin sebagian sudah pernah mendengar nama tersebut atau bahkan telah mengetahui kualitas batik tulis hasil perajin di daerah yang juga dikenal sebagai salah satu wilayah lumbung padi di Cilacap.

Namun demikian, mungkin tak banyak yang tahu, kalau batik tulis Maos merupakan karya warisan masa Pangeran Diponegoro.

Adalah Euis Rohaini yang dalam beberapa tahun belakangan ini berupaya membangkitkan dan mempertahankan sisa-sisa warisan leluhur tersebut dengan membina dan mengumpulkan hasil karya perajin rumahan.

Melalui kelompok usahanya “Rajasamas Batik”, saat ini sedikitnya ada sekitar 40 pembatik rumahan yang bergabung bersamanya. Mereka tersebar di dua desa yang berbeda yakni Maos Lor an Maos Kidul.

“Ada sekitar 200 an warga Maos yang bisa membatik. Tapi sekarang yang mau menekuni membatik sekitar 40,” katanya.

Ciri khas batik tulis Maos adalah coraknya benar-benar ditulis atau diukir sendiri oleh para perajinnya, bukan dicetak (diprinting, red) atau disablon. Warna klasik yang menjadi ciri khas batik tulis Maos yakni coklat, hitam dan putih.

“Kita pertahankan warna klasik yang menjadi cirri khas batik tulis Maos. Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk mengembangkan batik kontemporer dengan paduan warna-warni,” katanya.

Agar batik disukai kaum muda, Euis melakukan inovasi dengan membuat motif lebih gaul. Terobosan ini untuk ditempuh untuk memperluas pasar, selain itu diharapkan bisa mengajak generasi muda untuk mencintai produk khas dalam negeri.

Untuk mengenalkan batik tulis Maos, berbagai pameran telah dilakukan. Sayangnya, ujar Euis, pameran di Luar Negeri belum bisa dilakukan karena terkendala biaya. Seperti kesempatan ikut ‘’1st INDONESIA EXPO IN CENTRAL AND EAST EUROPE’’ di Warsawa, Polandia beberapa waktu lalu.

“Rencana mengikuti pameran di Polandia pada bulan Mei 2008 gagal karena terbatasnya biaya dan kurangnya dukungan dari pemerintah,” ujarnya.

Padahal beberapa pelanggannya berasal dari sejumlah negara, seperti Korea Selatan bahkan hingga negara-negara Eropa seperti Inggris.

“Setiap bulan kita pasok 100 potong untuk Korea Selatan. Untuk Inggris paling tidak setengah tahun sekali kita kirim 500 potong,” ujarnya.

Menurut dia, orang-orang Eropa lebih menyukai motif klasih dengan warna alami seperti kulit mahoni dan jalawe.

Bagaimana dengan harga batik tulis Maos? Dia mengatakan, bervariasi tergantung corak dan motif serta kain yang dipakai.

“Harga mulai Rp 200 ribu hingga Rp 1,8 juta. Bahan kain sutera lebih mahal harganya. Tingkat kesulitan juga menentukan harga,” kata dia.

Selain untuk pangsa luar negeri batik tulis Maos saat ini mulai digandrungi kalangan pejabat dan sejumlah konglomerat. Bahkan, kata dia, DPRD Propinsi Jawa Tengah telah memesan sebanyak 100 potong.

Membanjirnya sejumlah pesanan sering kali membuat Euis kewalahan, hal ini disebabkan produksinya masih rendah. Dalam sebulan rata-rata batik yang dihasilkan sebanyak 100 potong. Salah satu kendala yakni tenaga yang ada dan regenerasi seni batik lamban.

Dia menegaskan, usaha pemerintah untuk melestarikan kerajinan batik tulis bukan hanya sekedar mengadakan event pameran tetapi lebih jauh pemerintah harus bisa menjamin kesejahteraan para pengrajin batik tulis dengan cara regenerasi, pemasaran produk, maupun ketersediaan bahan baku.

“Dengan cara seperti itu saya yakin keberdaan batik tulis sebagai warisan asli budaya Indonesia tetap terjaga,” jelasnya.

Terkait rencana Pemerintah Kabupaten Cilacap memberi bantuan kepada kelompok usaha perajin batik tulis Maos, diapun membenarkan.

“Proposal yang kita ajukan kepada Pemkab telah disetujui. Sekarang tinggal tunggu pelaksanaan saja,” katanya.

Meski demikian, dia berharap bantuan bukan berupa uang namun dalam bentuk bangunan yang rencananya akan digunakan untuk workshop, pembabaran dan pengolahan limbah. 

Bila bantuan itu terwujud, tambah dia, bukan tidak mungkin pasar batik tulis Maos akan meluas dan membuka lapangan kerja baru.


Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP
 

Comments 

 
0 #6 kirim barangfebriant surya 2014-02-10 16:58
cilacap diam" pinya andil besar dalam kebangkitan batik indonesia....untuk pengiriman batik keluar pulau jawa.hubungi kami: 085228984664 /(0274)7018877
Quote
 
 
0 #5 Pemasaran Batik 2009-11-25 21:37
Kita harus mendiri memasarkan batik.Jangan sampai diakui oleh negara lain.Jangan berharap banyak dg bantuan pemerintah.
Quote
 
 
0 #4 Buka Butik Dong 2009-08-12 16:36
Paling tidak di kota Cilacap untuk batik Maos harus punya butik atau showroom supaya masyarakat Cilacap bisa turut serta mengembangkan dan juga ikut mempromosikanny a.
Quote
 
 
0 #3 UKM Dipandang sebelah mata (2) ! 2008-08-24 16:00
Sedangkan Cilacap, para pelaku UMKM Cilacap dari mulai pameran di PRJ, PRPP de el el, lebih banyak harus mengeluarkan kocek sendiri, meskipun disediakan hanya tempat saja. Sementara anggaran untuk promosi produk unggulan setiap tahun melalui bagian Perekonomian lumayan besar.

Kemanakah anggaran yang seharusnya di[eruntukan untuk promosi produk unggulan mengalir?

Silakan telusuri sendiri!

Jadi kalau misal batik tulis Maos merambah ke pasar manca negara (lebih tepatnya) itu karena perjuangan mereka sendiri bukan keberhasilan Pemkab!
Quote
 
 
0 #2 UKM Dipandang sebelah mata (1) ! 2008-08-24 15:54
Terlepas benar tidaknya batik tulis Maos telah merambah pasar manca negara, yang jelas pemerintah khususnya Pemkab Cilacap masih memandang sebelah mata UMKM.

Pemkab Cilacap seoalh hanya melirik investasi padat modal seperti PLTU de el el, sementara UMKM yang notabene menjadi ekonomi kerakyatan dan mampu menyerap tenaga kerja banyak tidak diperhatikan.

Sebagai perbandingan, pada daerah lain untuk promosi produk unggulan seperti kerajinan diberi fasilitas mengikuti berbagai pameran. Sewa tempat dan biaya akomodasi ditanggung pemerintah daerah setempat. (Bersambung...)
Quote
 

Posting komentar anda