Jun
25
2022
Today

Cuaca Cilacap 21-06-2022

Hujan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Suara PKB Naik Bukan Semata-mata Karena "Rhoma Effect" Cetak
Sabtu, 12 April 2014 10:54

Melihat fenomena naiknya perolehan suara PKB pada Pemilu 2014, publik dibuat kaget, karena kenaikannya memang sangat signifikan. Naik 91% dari hasil Pemilu 2009, Dari perolehan 4,18% pada Pemilu 2009 menjadi 9,31% pada Pemilu 2014.


Berdasarkan hasil hitung cepat LSI pada Pemilu Legislatif 2014, PDIP teratas dengan 19,77 persen, Golkar 14,61 persen, Gerindra 11,80 persen, Demokrat 9,73 persen, PKB 9,07 persen, PAN 7,47 persen, PPP 7,08 persen, PKS 6,61 persen, Nasdem 6,27 persen, Hanura 5,26 persen, PBB 1,36 persen, dan PKPI 0.97 persen. PKB dan Gerindra mencatat prestasi kenaikan hasil Pemilu yang signifikan, masing-masing Gerindra naik 7,3%, dan disusul PDIP dengan kenaikan 5,23%, dan selanjutnya PKB sebagai satu-satunya partai berbasis massa Islam yang menikmati kenaikan suara sebesar 4,18%.

Kenaikan PDIP dan Gerindra, sudah diprediksi sejak awal, karena keduanya dikenal memiliki mesin politik yang matang, dan sejak awal didukung oleh kekuatan modal yang sebegitu besar, sementara PKB merupakan partai berbasis pendukung umat Islam yang sangat rentan konflik dan sejak awal tidak ditopang oleh kekuatan modal yang kuat.

Kenaikan perolehan suara PKB tersebut diprediksi oleh berbagai pengamat sebagai akibat dari tingginya daya pengaruh Rhoma Irama, atau disebut Rhoma Effect. Seolah, naiknya perolehan PKB ini semata-mata karena pemilih baru yang merupakan pendukung fanatik (fans) Rhoma Irama, dan kemudian menjatuhkan pilihan kepada PKB, karena melihat peluang pencapresan melalui PKB. Setidaknya Litbang Kompas, Moh. Qodari, Direktur Indo Barometer, Tamil Selvan, Pemerhati sosial dan politik dari Universitas Mercu Buana, DR. Ikrar Nusa Bakti, Pengamat LIPI, dan banyak pengamat lain yang menyampaikan hal senada.

Penilaian ini memang ada benarnya, tetapi tidaklah mutlak, karena Rhoma Irama, hanya satu dari sekian banyak tokoh yang bergabung ke PKB, dan kesemuanya menjadi magnet untuk menentukan pilihan ke PKB. Bagi pencinta musik dangdut dan fans Rhoma, tentu hal ini ada benarnya, tetapi bisa jadi kurang berlaku bagi segmentasi yang lain. Kalangan masyarakat Indonesia timur, tentu lebih karena faktor Yusuf Kalla. Bagi kalangan lintas etnis dan pengusaha, jatuhnya pilihan ke PKB lebih karena faktor Rusdi Kirana, bos Lion Air yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PKB, atau Yusuf kalla yang juga berlatar belakang pengusaha, sedangkan bagi kalangan kampus, cendekiawan, praktisi hukum, dosen dan mahasiswa, mereka bergabung ke PKB –mungkin- lebih didasarkan pada faktor Mahfud MD. Bagi kalangan muda yang bukan penggemar dangdut, faktor Ahmad Dhani yang terjun total bersama Republik Cinta dan sang anak, Al, bisa jadi merupakan faktor dominan jatuhnya pilihan ke PKB.

Bagi kalangan Nahdliyyin, keputusan untuk menjadikan PKB sebagai labuhan politik, disamping karena faktor figure, yakni melihat sosok sang Ketua Umum PBNU, DR. Said Agil Siradj, MA., Ulama sepuh, antara lain KH. Hasyim Muzadi dan KH. Makruf Amin, serta Ketua Umum Muslimat NU, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, serta menguatnya kesadaran korsa di kalangan nahdliyin.

 

Kesadaran korsa di sini, adalah kesadaran yang muncul sebagai ekspresi jati diri ke NUan, karena adanya kerinduan untuk menjaga eksistensi perpolitikan NU, sebagai respon atas ketentuan Pasal 208 dan 209 UU nomor 8 Tahun 2012, yakni ketentuan ambang batas minimal untuk mengikuti pemilu selanjutnya (electoral threshold) dan kebutuhan eksistensi PKB sebagai wadah politik warga NU, agar bisa diikutsertakan dalam perhitungan perolehan suara DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten, apabila Partai Politik tidak memperoleh suara sah 3,5 % (tiga setengah prosen)

Kesadaran korsa ini menurut saya yang paling dominan. Hal itu ditunjukkan dengan totalitas pengurus NU di semua tingkatan agar PKB, sebagai Partai Politik yang dilahirkan oleh NU tidak gulung tikar, dan tetap eksis di bumi perpolitikan Indonesia.

Di tingkat paling bawah, Ranting dan Anak Ranting bergerak, dan hasinya cukup fenomenal. Walau tidak semua TPS ada saksi dari PKB, namun hampir di semua TPS, terdapat suara PKB, walaupun karena kurangnya jangkauan sosialisasi para Calegnya, di sebagian besar TPS yang dicoblos hanya gambar partainya. Jumlah perolehan Calegnya, rata-rata lebih kecil dibanding yang memutuskan untuk memilih partai saja.

Kedua hal itu disempurnakan dengan tingginya akseptasi publik terhadap PKB, dan menempatkan PKB sebagai partai politik yang di tingkat nasional nyaris sepi dari pemberitaan kasus korupsi, sementara lainya, Demokrat diterpa isyu mega korupsi hambalang, Golkar dengan isyu korupsi qur’an, dinasti Atut, dan lainya, PKS dengan isyu korupsi daging sapi beserta bumbu-bumbu artis dan wanita cantik yang menikmati hasil penjarahan massal, PPP dengan skandal korupsi Bansos dan sarung, serta isyu lainnya. Boleh dikata, PKB nyaris bersih dari isyu miring korupsi yang hingar-bingat dalam pemberitaan nasional.

Secara Politik, PKB pada Pemilu 2014 juga dibackup oleh struktur politik yang kokoh, solid dan rasional, sehingga menjadikan orang merasa tenteram bernaung di bawah panji PKB. Kalaupun ada gangguan-gangguan kecil dari keluarga Gus Dur terkait pemasangan gambar Gus Dur di baliho-baliho Caleg PKB, namun hal itu tidak membuat persepsi pemilih terhadap PKB menjadi minor. Ibarat pepatah, anjing menggonggong, kafilah (tetap) berlalu.

Tapi apapun factor dominan yang turut mendorong naiknya dukungan politik terhadap PKB, semua jajaran PKB tidak boleh jumawa, dan menyikapi kemenangan tersebut dengan rendah hati. Dalam filsafat jawa disebut menang tan ngasorake.. Menang ora umuk, kalah ora ngamuk….

Ditulis oleh Taufick Hidayatulloh
Penulis adalah mantan Ketua KPU Cilacap periode 2004-2009